Membuat Nilai 1 – 4 Yang Benar Pada Kurikulum 2013

Sistem penilaian kurikulum 2013 diatur pada permendikbud nomor 104 tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pada halaman 22 lampiran permendikbud nomor 104 tahun 2014 dinyatakan sebagai berikut: “Kurikulum 2013 menggunakan skala skor penilaian 4,00 – 1,00 dalam menyekor pekerjaan peserta didik untuk setiap kegiatan penilaian (ulangan harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, tugas-tugas, ujian sekolah)”
Dengan demikian pada ulangan harian kita tidak boleh lagi memberikan nilai 75 atau 90 misalnya, tetapi nilai yang harus diberikan adalah 3,75 atau 2,95 (misalnya).

Lantas bagaimana cara membuat nilai 1 – 4 yang benar? Ada 2 hal yang akan kita bahas untuk membuat nilai 1 – 4, yaitu mengkorversi nilai 0 – 100 menjadi 1 – 4 dan membuat nilai langsung 1 – 4 dari hasil ulangan.

1. Mengkonversi Nilai 0 – 100 ke 1 – 4.

Permendikbud nomor 104 tahun 2014 baru diterbitkan sekitar awal november 2014, walaupun permendikbud tersebut ditandatangani 3 Oktober 2014, sehingga nilai yang dibuat oleh guru-guru masih dalam 0 – 100, bukan 1 – 4, sehingga untuk menjadikan nilai 1 – 4 maka diperlukan konversi.

Rumus konversi yang saat ini dipakai adalah sebagai berikut:

M = (N/100) X 4 atau M = N/25. M adalah nilai 1 – 4 sedangkan N adalah nilai 0 – 100.

Misal nilai 90 dikonversi menjadi 90/25 = 3,60.

Ternyata rumus konversi itu kurang tepat, bila tidak boleh dikatakan salah. Yang perlu kita perhatikan bahwa 0 – 100 dikonversi menjadi 1 – 4 bukan dikonversi menjadi 0 – 4. Untuk mengkonversi nilai 0 – 100 menjadi 1 -4 (bukan 0 -4 lo) ada baiknya kita pelajari lagi bagaimana mengkonversikan suhu dalam derajat Celcius menjadi suhu dalam derajat Fahrenheit.

Dalam skala celcius titik beku air 0o C sedangkan titik didih air adalah 100oC. Sedangkan dalam skala fahrenheit, titk beku air 32oF adalah sedangakn titik didih air adalah 212oF.

Itu artinya 0 ekuivalen dengan 32 sedangkan 100 ekuivalen dengan 212,

Selisih titik didih dan titik beku air dalam skala celcius adalah 100 derajat, sedangkan selisih titik didik dan titik beku air dalam skala fahrenheit adalah 180 derajat. Sehingga untuk mengkonversi suhu skala celcius ke skala fahrenheit adalah sebagai berikut:

F = (180/100) x C + 32 atau F = (9/5) x C + 32, F adalah suhu dalam fahrenheit sedangkan C adalah suhu dalam skala celcius.

Misal C = 40 maka F = (9/5) x 40 + 32 = 72 + 32 = 104. Jadi 40o C = 104o F.

Dengan analogi konversi suhu di atas marilah kita cari rumus konversi dari 0 – 100 menjadi 1 – 4

Selisih 0 dan 100 adalah 100, sedangkan selisih 1 dan 4 adalah 3, sehingga rumus konversinya adalah sebagai berikut:

M = (3/100) x N + 1, M adalah nilai 1 – 4 dan N adalah nilai 0 – 100.

Contoh N = 50, maka M = (3/100) x 50 + 1 = 1,5 + 1 = 2,5.

Untuk memperkuat pemahaman kita mengenai konversi ini, marilah kita perhatikan bagaimana rumus konversi skala celcius ke skala reamur.

Dalam skala celcius titik beku air 0o C sedangkan titik didih air adalah 100oC. Sedangkan dalam skala reamur, titk beku air 0oR adalah sedangakn titik didih air adalah 80oR.

Itu artinya 0 ekuivalen dengan 0 sedangkan 100 ekuivalen dengan 80

Selisih titik didih dan titik beku air dalam skala celcius adalah 100 derajat, sedangkan selisih titik didik dan titik beku air dalam skala reamur adalah 80 derajat. Sehingga untuk mengkonversi suhu skala celcius ke skala reamur adalah sebagai berikut:

R = (80/100) x C  atau F = (4/5) x C, R adalah suhu dalam fahrenheit sedangkan C adalah suhu dalam skala celcius. Rumus konversi in berbeda dengan Celicius ke Fahrenheit, yaitu TIDAK ADA PENAMBAHAN 32, karena Celcius san Reamur sama-sama “berangkat” dari 0, Sedangka Celcius dan Fahrenheit berbeda, Celcius “berangkat” dari 0 sedangkan Fahrenheit “berangkat” dari 32, sehingga perlu “penambahan” 32.

Sekarang perhatikan lagi rumus konnversi nilai 0 – 100 menjadi 1 – 4 ada “penambahan” 1, itu dikarenakan 0 – 100 “berangkat” dari 0 sedangkan 1 – 4 berangkat dari 1. Artinya bila ada 10 soal seorang siswa tidak dapat menjawab sama sekali maka nilainya bukan 0 untuk skala 0 – 100, tapi dapat 1 untuk skala 1 – 4.

Bila 0 – 100 dikonversi menjadi 0 – 4 maka benar bahwa rumus konversi yang dipakai M = N/25, seperti halnya rumus konversi Celcius ke Reamur. Tetapi nilai yang dipakai pada kurikulum 2013 bukan 0 – 4 tetapi 1 – 4, sehingga rumus konversinya adalah

M = (3/100) x N + 1. Dengan ketentuan M = Nilai 1 – 4 dan N = Nilai 0 – 100

Untuk mengubah nilai dari 1 – 4 menjadi 0 – 100 maka rumusnya tinggal dibalik, yaitu:

N = (M – 1) X 100/3

Masih Belum Yakin Bahwa M = N/25 Itu Salah?

Oke. Misal nilai 50 kita konversi ke skala 1 – 4 dengan menggunakan rumus M = N/25 maka didapat M = 50/25 = 2. Nilai 50 itu adalah NILAI TENGAH pada skala 0 – 100. Dengan demikian bila dikonversikan ke skala 1 – 4 seharusnya posisinya juga harus di TENGAH. Coba kita lihat skema di bawah ini, apakah 2 berada di TENGAH?

tengah

Ternyata 2 tidak berada di TENGAH. Mengapa? Karena 1 – 4 itu berangkatnya dari 1, berbeda bila kita konversi menjadi 0 – 4 maka 2 itu posisinya di TENGAH, seperti gambar di bawah ini.

tengah2

Jadi untuk skala 1 – 4 posisi TENGAH adalah 2,5. hal ini diperoleh dari M = (3/100) x 50 + 1 = 2,5

2. Membuat Nilai Langsung 1 – 4 Dari Hasil Ulangan.

Analogi dengan konversi 0 – 100 menjadi 1 – 4 maka rumus membuat nilai 1 – 4 dari hasil ulangan adalah sebagai berikut:

N = (S/S maks) x 3 + 1

Misal skoar maksimal 30, seorang siswa dapat skor 25 maka nilainya adalah N = (25/30) x 3 + 1  = 3,5

Iklan

About Moch. Fatkoer Rohman

Saya seorang guru matematika di SMAN 1 Tanjung Lombok Utara. Pendidikan terakhir S1 Pendidikan matematika IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Perjalanan profesi, pernah menjadi guru inti dan anggota tim desain pembelajaran matematika di Lombok Barat.

Posted on 18 Desember 2014, in Kurikulum and tagged , , , . Bookmark the permalink. 29 Komentar.

  1. jadi versi lamanya salah…kalau begini trus gemana dah terlanjur dibuat apalgi sebentar lagi mau bagi raport…apalagi K13 batal diterapkan untuk semester genap…tambah guru2 bingung…apalagi guru2 senior menjelang pensiun kalau yang lebih mudah gak maslah….

  2. Terimakasih pak. O ya pak punya aplikasi penilaian sampai ke perapotan, gratis nggak ????

  3. Ini tidak salah, tapi juga tidak benar. Nilai 1-4 dan nilai 0-100 adalah dua nilai yang tidak bisa saling mengkonversi. Nilai 1-4 adalah nilai yang diskrit sedangkan nilai 0-100 adalah nilai yang kontinu. Mendapatkan nilai, misal 2,78 setelah dirata-rata. Mohon maaf. (Agus Sujono, SMAN 1 Sidoarjo, Jawa Timur)

  4. Terima kasih banyak Pak Fatur Thok

  5. Trims atas rumusx,tapi saya tetap ga yakin .
    Dari konversi 2,67 = 55,67
    nilai 50,33 sudah B-
    nilai 17,00 dapat C-
    Maka menurut saya kurang tepat.
    Saya jg punya alternatif, pakai rumus interpolasi dg batasan (45~100) dan (1,17~4,00) dan nilai (0~45) langsung dianggap 1. Tapi jg tdk memuaskan.
    Adakah yang punya rumus asli dari diknas pusat ?

  6. penjabaran rumus diatas sangat masuk akal pak, namun apakah bapak sudah melihat konversi nilai K13 ke KTSP pada juknis pemberlakuan KTSP dan K!3. sepertinya koq tidah pas juga dengan rumus yg bpk paparkan. mohon pencerahan pak….

  7. Posting ini dibuat sebelum juknis pemberlakuan K2006 dan K2013 terbit. Trims Pak Adnan. Rumus yang dipakai di juknis itu memang tidak sama dengan analisis saya. Karena sudah ditetapkan rumusnya secara resmi, tentu itu yang kita pakai, walaupun saya tetap tidak setuju

  8. Agus Sujono, SMAN 1 Sidoarjo

    LCK adalah Laporan Capaian Kompetensi. Kalau sudah berbicara kompetensi maka yang ada adalah bagaimana nilai KD nya. Sehingga muncul siswa itu: Kurang (1); Cukup (2); Baik(3) dan Sangat(4). Sepertinya perlu rembug Nasional para waka kurikulum. Hehehe…

    • Pak Agus Sujono ini yang ikut bimtek wakakur di Surabaya itu ya? Di hotel Garden Palace. Bila ya, maka kita pasti pernah ketemu. Karena saya (wakakur SMAN 1 Tanjung) juga ikut.

  9. sebelum saya menemukan artikel ini, saya sudah mengkonversi nilai KTSP menjadi K13. persis seperti yang dijelaskan dalam web ini termasuk alasan penggunaan rumus diatas (analogi dari konversi suhu)

    Alasan sederhana saya menggunakan rumus di atas adalah:

    – Coba teman-teman renungkan, bilangan apapun kalau dikali dengan 0 pasti hasilnya nol tidak mungkin ada nilainya kecuali ada rumus baru yang dikeluarkan oleh kementerian.
    (n/100)*4

    – Coba kita pake rumus terbaru (konversi nilai) yang dikeluarkan oleh kementerian….
    misalkan n = 0 ==> (0/100) ==> 0 dikalikan 4 hasilnya tetap NOL.

    apakah NOL sama dengan SATU ????

    anak saya yang TK pun mengatakan TIDAK SAMA!!

  10. KKM pada kurikulum KTSP adalah 75
    Kalau menggunakan rumus M = (3/100) x N + 1 seperti pada artikel ini, maka nilai 75 setara dengan 3.25. Kalau menggunakan rumus (n/100)*4 seperti tulisan Bapak Amirullah, maka 75 setara dengan 3.00.
    Pada hal Kriteria Ketuntasan Minimal yang direkomendasikan dalam Peraturan Mendikbud adalah 2,66, dalam hal ini 2,66 setara dengan 75 % pencapaian kompetensi.
    KKM 2.66 kalau menggunakan rumus M = (3/100) x N + 1, setara dengan 55.5
    KKM 2.66 kalau menggunakan rumus (n/100)*4, setara dengan 66.5
    Jadi kesimpulannya kedua rumus tersebut kurang pas untuk digunakan, karena KKM-nya akan menurun drastis, yang berarti kualitasnya juga turun.
    Mungkin yang lebih mendekati adalah sebagai berikut:
    – nilai 100 setara dengan 4.00
    – nilai 75 setara dengan 2.66
    – dan nilai 50 ke bawah setara dengan 1
    dari ketentuan tersebut belum ada rumus yang pas untuk digunakan, solusinya kita buatkan tabel berdasarka ketentuan di atas sebagai berikut:

    100 4.00 A SB
    99 3,95
    98 3,90
    97 3,85
    96 3,81
    95 3,76
    94 3,71
    93 3,66 A-
    92 3,61
    91 3,55
    90 3,50
    89 3,44
    88 3,39
    87 3,33 B+ B
    86 3,28
    85 3,22
    84 3,17
    83 3,11
    82 3,06
    81 3.00 B
    80 2,94
    79 2,89
    78 2,83
    77 2,77
    76 2,72
    75 2,66 B-
    74 2,59
    73 2,53
    72 2,46
    71 2,40
    70 2,33 C+ C
    69 2,26
    68 2,20
    67 2,13
    66 2,07
    65 2.00 C
    64 1,93
    63 1,86
    62 1,80
    61 1,73
    60 1,66 C-
    59 1,59
    58 1,53
    57 1,46
    56 1,40
    55 1,33 D+ K
    54 1,26
    53 1,20
    52 1,13
    51 1,07
    50 1,00 D
    49 0,93
    48 0,87
    47 0,80
    46 0,74
    45 0,67

  11. Ijin CopPas Gan, buat tambah referensi. Menarik ini untuk dikaji.

  12. Dengan tetap berpedoman bahwa:
    – nilai 100 setara dengan 4.00
    – nilai 75 setara dengan 2.66
    – dan nilai 50 ke bawah setara dengan 1
    Alhamdulillah, sudah ada yang insya-Allah tepat namun sebelumnya perlu diketahui dari mana rumus tersebut di dapat supaya jelas
    * pertama kita buat angka 100, 99.9 di excell blok kedua cell tersebut, kemudian tarik bagian sudut kanan bawah sampai didapat 25.00. dalam hal ini perpindahan dari cell ke cell di bawahnya berkurang 0,1 yang berasal dari (selisih 100 dan 75)/250
    * kedua perhatikan dari angka 100 ke angka 75.00, ternyata terdapat 250 angka. Karena 100 setara dengan 4.00 dan 75.00 setara dengan 2.66, maka diantara angk – 4.00 dan 2.66 juga harus terdapat 250 angka, jadi pada skala 4 perpindahan dari cell ke cell di bawahnya berkurang 0,00536 yang berasal dari (selisih 4.00 dan 2.66)/250
    * ketiga ketik angka 4 sejajar dengan 100, kemudian buat formula di bawahnya =cell diatasna – 0.00536, kemudian kopi ke bawahnya dengan cara tarik bagian bawah kanan, sehingga di dapatkan 0.00 yang ternyata sejajar dengan 25.4 pada skala 100. dari sini barulah dapat dibuat konversi menggunakan konversi suhu karena kita sudah mendapatkan nilai nol pada skala 4, yaitu:
    4*(N-25.4)/(100-25.4) ……> 4*(N-25.4)/74.6 rumus ini untuk nilai >= 75
    * keempat dengan cara yang sama pada langkah kedua dan ketiga untuk nilai di bawah 75 sampai 50 sehingga didapatkan rumus:
    2.66*(N-35)/(75-35) ………> 2.66*(N-35)/40
    * kelima nilai 50 ke bawah sama dengan 1

    saya sudah buatkan aplikasi sederhana di excell yang dapat digunakan untuk mengkonversi nilai dari skala 100 ke skala 4 atau sebaliknya yang menginginkannya dapat email ke dulmajid06@yahoo.com Gratisss.

    Semoga bermanfaat

  13. Ternyata rumus yang telah saya upload beberapa hari yang lalu masih ada masalah, yaitu jika ada dua nilai pada range yang berbeda (di atas 75 dan di bawah 75) akan terjadi kekacauan jika dibuat rata-ratanya.

    contoh : nilai UH1 mendapat nilai 50 dan nilai UH2 mendapat nilai 100, kalau dirata-rata 150 : 2 = 75 kalau dikonversi menjadi 2.66.
    Tetapi bila konversinya dilakukan satu persatu; 50 —> 1 dan 100 —-> 4 kalau dirata-rata menjadi 5 : 2 = 2.50.

    jadi cara perhitungan tersebut hanya cocok untuk nilai akhir saja, jika ketetapannya harus 50 kebawah setara dengan 1.

    Mungkin solusinya harus menggunakan rumus tunggal yaitu 4*(N-25.4)/74.6, tidak menurunkan nilai KKM-nya yaitu 75 setara dengan 2.66 akan tetapi 50 setara dengan 1.32 bukan 1. sehingga jika siswa menapat nilai 50 dan 100, bila di konversi satu persatu menjadi 1.32 dan 4, bila dirata-rata menjadi 2.66

  14. tolong aku dikirimi pak majid mnrik untuk dikaji dan dianalisa shg kita dapatkan formulasi sistem yg sdkt sempurna jaenuriahmad 84@yahoo.com

  15. Salam kenal semuanya, senang bergabung shar disini. seru juga kayaknya nih pembahasan ttg penilaian K 13.
    Jd selama tidak ada ketentuan rumus scr mutlak dr pemerintah, sepertinya setiap guru menggunakan rumus yg berbeda.

  16. senang bangat melihat semangat para guru-guru Indonesia 🙂

  17. mas fathur….kyx kurang tepat klo NILAI (SKALA 4) DENGAN RUMUS : 1 + (NILAI YANG DIRAIH/100)x3…..maka 56 hasilx adalah 2,68, kalau menggunakan rumus (NILAI YANG DIRAIH/100)x4 = 2,24 (saya pikir ketuntasan hasil belajar harusx 67 (67/100)*4 = 2,68 tapi kalau menggunakan (67/100)x3+1= 3,01….jadi permendikbud 104 sudah jelas, ga ada masalah mas!

  18. Mksh bnyak atas ilmunya pak
    Smg tmbh maju amin

  19. Kalau saya sangat setuju dengan Pak Fakoer.
    Perlu diketahui KKM tidak selalu menunjukkan kualitas pendidikan.
    KKM menurut permendikbud 104 adalah 2,67 setara 58….
    BUKAN SETARA DENGAN 75.
    Bahkan dalam peraturan penilaian edisi 2015 kita kembali ke skor 0-100
    dengan KKM 60 (ENAM PULUH).
    Mohon dicermati.

  20. Selamat tinggal konversi nilai yang bikin bingung karena tidak adanya pedoman dari Kemendiknas, telah diterbitkan Permendiknas No 53 tertanggal 14 Desember 2015 tentang Panduan Penilaian Untuk Sekolah Menengah Atas, dimana penilaian dikembalikan ke rentang 0 s/d 100. Sehingga permendikbud nomor 104 tahun 2014 tidak berlaku lagi

  21. Mungkin ini yang melatarbelakangi, bahwa penilaian untuk SNMPTN 2016 dilihat dari niali Semester 3, 4, dan 5.

  22. Selamat berjuang para guru yang mulia, semoga dedikasi Anda terukir indah dalam membangun peradaban dan keadaban bangsa ini.

  23. Saya mohon bantuan informasinya untuk keperluan penginputan nilai di PDSS 2016:
    1. Untuk sem 1 pada tahun 2013/2014 nilai kkm yang digunakan berapa?
    2. Untuk sem 2 pada tahun 2013/2014 nilai KKM yang digunakan berapa?
    3. Bagaimana sistem konversi nilai pada sem 1 tahun 2013/2014 ? Saya belum tahu informasi yang terkini.

    Terima kasih banyak untuk bantuannya.

  24. Wah ini jadi saya yang angkatan pertama kurikulum 2013 dibuat bingung pak, ketika harus menginput nilai saat mengisi formulir masuk perguruan tinggi dll yang meminta konversi nilai 2 digit dengan min. nilai 70. saya harus pakai cara yang mana? karena sepertinya hampir setiap semester cara penilaiannya berubah. Salah-salah mengonversi, nanti malah saya sendiri yang rugi

    • Sebenarnya skala 1-4 adalah benar, kajian teorinya bapak dan ibi guru harus mau belajar dari konsep kurva normal Gronlund rumus yang digunakan Y = (1/15) X – 2,66 dimanaY adalah nilai skala 4 dan X adalah skala 100. Sedih saya melihat kemampuan guru di Indonesia membuat pernyataan yang kurang dipahaminya sehingga jawabannya ngawur. Dan Kemendikbud sudah benar. Silahkan lihat “PEDOMAN PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SMK DIREKTORAT PEMBINAAN SMK 2013”.

      IV. PENSKORAN DAN PENENTUAN KELULUSAN Setiap kompetensi hasil belajar mencakup kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi sikap, meskipun demikian penilaiannya dilakukan secara terpisah. Penilaian kompetensi ditampilkan dalam dua bentuk, yakni capaian dan deskripsi. Penilaian capaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan awalnya dinyatakan dalam bentuk angka (1 – 100) kemudian dikonversi menjadi (1 – 4) menggunakan persamaan: Y = 1/15 X – 2,66 Y = skor hasil konversi (1 – 4) X = skor hasil penilaian (1 – 100) Penilaian capaian kompetensi sikap terdiri dari dua, yakni penilaian sikap pada mata pelajaran tertentu dan penilaian sikap pada semua mata pelajaran. Deskripsi kompetensi dalam mata pelajaran tertentu hanya singkat, yakni: Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K). Sementara itu, deskripsi pada kompetensi sikap antar mata pelajaran merupakan penjelasan bagian kompetensi mana yang sudah dan yang belum dikuasai oleh siswa. Hasil konversi dan keterkaitannya dengan deskripsi dapat dilihat pada tabel 9.
      Tabel 9. Konversi dari skor (1 – 100) ke (1 – 4) INTERVAL SKOR HASIL KONVERSI PREDIKAT KRITERIA
      96 – 100 4.00 A SB
      91 – 95 3.67 A- SB
      86 – 90 3.33 B+ B
      81 – 85 3.00 B B
      75 – 80 2.67 B – B
      70 – 74 2.33 C+ C
      65 – 69 2.00 C C
      60 – 64 1.67 C- C
      55 – 59 1.33 D+ K
      < 54 1.00 D K

  25. Yang dikoreksi adalah
    Tabel 9. Konversi dari skor (1 – 100) ke (1 – 4) INTERVAL SKOR HASIL KONVERSI PREDIKAT KRITERIA
    95<CK<=100 4.00 A SB
    90<CK<=95 3.67 A- SB
    85<CK<=90 3.33 B+ B
    80<CK<=85 3.00 B B
    75<CK<=80 2.67 B– B
    70<CK<=75 2.33 C+ C
    65<CK<=70 2.00 C C
    60<CK<=65 1.67 C- C
    55<CK<=60 1.33 D+ K
    CK<=55 1.00 D K

    Untuk penilaian terbaru 2016 tetap semangat yang sama tetapi hanya menggunakan skala 100 dengan nilai terendah yang boleh dicapai 55 dan tertinggi 100.

    95<CK<=100 4.00 A SB
    90<CK<=95 3.67 A- SB
    85<CK<=90 3.33 B+ B
    80<CK<=85 3.00 B B
    75<CK<=80 2.67 B– B
    70<CK<=75 2.33 C+ C
    65<CK<=70 2.00 C C
    60<CK<=65 1.67 C- C
    55<CK<=60 1.33 D+ K
    CK<=55 1.00 D K

    Jika ada nilai di bawah 55 bearti ada kesalahan dalam kegiatan pembelajaran guru atau murid boleh dipertanyakan ada apa?

    Jika seoarang guru memberi nilai 55 bearti perlu dipertanyakan mengapa tidak mampu meningkatkan kemampuan siswa?

    85<CK<=100 A SB
    70<CK<=85 B B
    55<CK<=70 C C
    CK<=55 D K

    Ingat konsep 55 adalah pengakuan bahwa tidak ada anak yang bodoh…😃😃😃

    Dengan hanya terdapat 4 kriteria rentang penilaian sekarang siswa banyak mendapat nilai A dan B karena sekolah sering menetapkan KB istilah baru KKM 75 atau 80 sehingga di atas kertas anak Indonesia banyak yang luar biasa kecerdasannya….Tetapi kenyataannya bagaimana??? 😂😂😂

    Terjadi kemunduran lagi…

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s