Arsip Blog

Membuat Deskripsi Yang Tepat Pada Rapor Kurikulum 2013

Berdasarkan permendikbud nomor 104 tahun 2014 bahwa rapor tidak hanya diisi dengan nilai, namun juga diberikan deskripsi untuk ketiga ranah yaitu deskripsi pengetahuan, deskripsi keterampilan dan deskripsi sikap. Membuat deskripsi pada nilai suatu mata pelajaran itu berdasarkan nilai setiap KD (Kompetensi Dasar). Dua orang siswa sama-sama dapat nilai 3,65 (misalnya) belum tentu deskripsinya sama, karena penguasaan terhadap KD-KD kedua siswa itu belum tentu sama.

Sebagai contoh, misalkan matematika terdapat 5 KD untuk pengetahuan, yaitu KD 3.1 sampai dengan KD 3.5. Bisa saja siswa pertama, KD 3.1 sampai dengan 3.4 SANGAT MENGUASAI, sedangkan KD 3.5 kategorinya MENGUASAI, sedangkan siswa kedua KD 3.1 MENGUASAI sedangkan KD 3.2 sampai dengan KD 3.5 SANGAT MENGUASAI. Jadi masing-masing siswa bisa jadi deskripsinya semuanya berbeda. Inilah yang menjadi salah satu alasan bahwa menulis deskripsi pada rapor kurikulum 2014 itu merepotkan, kecuali bila dibantu dengan aplikasi, sehingga deskripsi akan muncul otomatis. Read the rest of this entry

Ketidakjelasan Mengenai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Di Kurikulum 2013

Di kurikulum 2006 pantas disebut KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) karena sebagian besar ketentuan-ketentuan dibuat oleh sekolah, misalnya silabus dibuat oleh sekolah, ketentuan kenaikan kelas, penentuan batas ketuntasa minimal (yang disbut KKM) juga ditentukan oleh sekolah. Di kurikulum 2013 memang juga disebut KTSP, namun kadar KTSPnya lebih rendah bila dibandingkan dengan kurikulum 2006.

Di kurikulum 2006 tegas dinyatakan bahwa sekolah harus membuat batasa ketuntasan sendiri yang tentu saja tidk sama dengan sekolah lain, yang kita kenal dengan istilah SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) yang kemudian berubah menjadi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Untuk menentukan KKM ini ada 3 kriteria yang menjadi acuan, yaitu Intake Siswa, Daya Dukung, dan Kompleksitas. Read the rest of this entry

Membuat Nilai 1 – 4 Yang Benar Pada Kurikulum 2013

Sistem penilaian kurikulum 2013 diatur pada permendikbud nomor 104 tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pada halaman 22 lampiran permendikbud nomor 104 tahun 2014 dinyatakan sebagai berikut: “Kurikulum 2013 menggunakan skala skor penilaian 4,00 – 1,00 dalam menyekor pekerjaan peserta didik untuk setiap kegiatan penilaian (ulangan harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, tugas-tugas, ujian sekolah)”
Dengan demikian pada ulangan harian kita tidak boleh lagi memberikan nilai 75 atau 90 misalnya, tetapi nilai yang harus diberikan adalah 3,75 atau 2,95 (misalnya).

Lantas bagaimana cara membuat nilai 1 – 4 yang benar? Ada 2 hal yang akan kita bahas untuk membuat nilai 1 – 4, yaitu mengkorversi nilai 0 – 100 menjadi 1 – 4 dan membuat nilai langsung 1 – 4 dari hasil ulangan. Read the rest of this entry

Ketentuan-Ketentuan Penilaian Menurut Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014

Penilaian merupakan masalah yang paling krusial di kurikulum 2013. Salah ide penilaian pada kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Namun perkembangan selanjutnya ditegaskan di permendikbud 104/2014 penilaian terdiri dari penilaian autentik dan non-autentik (Pasal 2 ayat 1 Permendikbud 104/2014).

Selain itu ada beberapa hal penting yang perlu dipahami mengenai ketentuan-ketentuan penilaian menurut permendikbud 104 tahun 2014 sebagai berikut: Read the rest of this entry

Format RPP Pada Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran

Format RPP pada kurikulum 2013 mengalami beberapa perubahan. Format RPP sebelumnya diatur pada permendikbud Nomor 81A tentang implementasi kurikulum. Format RPP dalam permendikbud nomor 81A adalah sebagai berikut:
IDENTITAS
A. Kompetensi Inti (KI)
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
1. KD Pada KI-1
2. KD Pada KI-2
3. KD Pada KI-3
Indikator:___
4. KD Pada KI-4
Indikator:___
C. Tujuan Pembelajaran
D. Materi Pembelajaran
E. Media/Alat, Bahan dan Sumber Belajar
F. Metode Pembelajaran
G. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
H. Penilaian. Read the rest of this entry

Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik SMP (Rapor SMP)

raportkurikulum2013Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 maka format rapor pun berubah. Seperti kita tahu bahwa bentuk penilaian di kurikulum 2013 tidak dinyatakan dalam bentuk 0 – 100, namun dinyatakan dalam bentuk kateggori A sampai dengan D. Rapor kurikulum 2013 yang istilahnya berubah nama menjadi Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik (LHPKPD), dalam pengisiannya diperlukan pentunjuk teknis. Petunjuk teknis itu sudah disusun oleh DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA.

Bila Anda guru SMP/MTs membutuhkan model LHPKPD ini silakan unduh di tautan berikut ini:

UNDUH LHPKPD

Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 Tidak Berlaku Lagi?

K13Pada tahun 2013 dikeluarkanlah permendikbud nomor 81A sebegai landasan yuridis implementasi kurikulum 2013. Pada permendikbud 81A tahun 2013 terdapat 5 buah lampiran yaitu:
  1. lampiram I: Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
  2. lampiran II: Pedoman Pengembangan Muatan Lokal
  3. lampiran III: Pedoman Kegiatan Kegiatan Ekstrakurikuler
  4. lampiran IV: Pedoman Umum Pembelajaran
  5. lampiran V: Pedoman Evaluasi Kurikulum

Saat ini ada isu berkembang bahwa permendikbud 81A tahun 2013 tidak berlaku lagi dan sudah ada penggantinya. Hal ini tidaklah benar, yang benar adalah sebagian dari permendikbud tersebut, yaitu lampiran, yaitu lampiran I, II dan III yang tidak berlaku, sedangkan lampiran IV dan V masih berlaku.
Read the rest of this entry

Menyoal Tabel Konversi Nilai Skala 0 – 100 ke Skala 1 – 4 Pada Permendikbud Nomor 59 Tahun 2014

Kemdikbud sudah mengesahkan permendikbud nomor 59 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 SMA/MA. Permendikbud ini sudah disahkan pada tanggal 2 Juli 2014. Untuk mengetahui kebenaran bahwa permendikbud tersebut sudah disahkan dapat kita lihat tautan ini. Walaupun sudah disahkan, ada beberapa pendapat yang mengatakan bawhwa permendikbud tersebut jangan dipakai dulu. Saya tidak mengerti alasannya mengapa ada yang berpendapat seperti itu. Kalau begitu terkesan kemdikbud kurang “percaya diri” mengesahkan permendikbud tersebut. Saya menduga seperti itu karena di permendikbud tersebut banyak sekali terdapat kontradiksi, diantaranya adalah format RPP dan tabel konversi nilai skala 0 – 100 ke skala 1 -4.

Kali ini saya menyoal mengenai tabel konversi nilai skala 0 – 100 ke skala 1 -4. Tabel konversi itu terletak pada pedoman mata pelajaran yang ada di lampiran III. Saya akan mengambil tabel konversi dari beberapa mata pelajaran. Read the rest of this entry