KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal ) 75 Itu Tidak Realistis

Pada Kurikulum 2006 (yang dikenal dengan KTSP) kita telah mengetahui bersama bahwa sekolah harus menentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM tersebut ditetapkan dengan aacuan tertentu dan tiapa mata pelajaran KKMnya bisa jadi berbeda-beda. KKM dtetapkan mulai dari yang rendah (misal 65) dan tiapa tahun ditingkatkan hingga mencapai KKM ideal nasional yaitu 75 atau bahkan lebih.

Yang menjadi permasalahan adalah KKM meningkat namun tidak dibarengi dengan kualitas pembelajaran, sehingga KKM 75 itu terkesan dipaksakan, artinya sebenarnya ada sekolah (tidak semua) yang sebenarnya belum waktunya KKM 75 dipaksakan menjadi 75. Apalagi nilai rapor menjadi unsur perhitungan kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Apa akibatnya? terjadilah apa yang kita sebut katrol nilai.

Sebenarnya KKM 75 itu tidak realistis? Alasannya seperti yang saya paparkan di atas bahwa secara empiris bahwa KKM 75 itu banyak sekolah yang belum siap, namun dipaksakan KKM 75. Di samping itu KKM 75 itu dengan KKM  di perguruan tinggi, di peguruan tinggi sebenarnya tidak ada istilah KKM, yang ada batas minimal kelulusan yang biasanya adalah C.

Mari kita perhatikan tabel konversi nilai skala 100 ke skala 4 atau ke dalam nilai huruf di beberapa perguruan tinggi di bawah ini

Tabel kon Banyak

Dari beberapa tabel di atas dapat disimpulkan bahwa batas minimal kelulusan adalah 55 atau 56. Nah sekarang kita bandingkan dengan batas minimal kelulusan di sekolah (KKM) yang besarnya 75, bukankah angka 75 ini tidak realistis. Sekarang kita bahas mengenai nilai di kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 nilai dinyatakan dalam bentuk huruf seperti halnya di perguruan tinggi, namun lebih bervariasi, yaitu A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D+, dan D (terdapat variasi 10 nilai), dengan ketentuan batas miniimal kelulusan (ketuntasan) adalah B- atau 2,66, seperti tabel di bawah ini:

k1

Tabel penilaian tersebut terdapat di permendikbud no 81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, lampiran IV. Dengan ditetapkannya dalam dalam bentuk huruf maka diperlukan tabel konversi dari skala 100 ke skala 4 (dalam bentuk huruf). Untuk membuat tabel konversi ini di permendiknud tersebut belum ada pedomannya, sehingga sekolah membuat tabel konversi sendiri-sendiri yang bisa jadi berbeda tiap sekolah. Dengan batasas minimal ketuntasan B- atau 2,66 apakah sekarang KKM harus 75? saya pikir tidak harus. Untuk membuat tabel konversi itu bisa saja kita mengacu ke tabel yang ada di beberapa perguruan tinggi, karena sekarang menyatakan nilai dalam rapor (Laporan Capaian Kompetensi) sudah hampir sama dengan perguruan tinggi, yaitu dalam bentuk huruf.

Berikut ini contoh tabel konversi dari nila 0 – 100 menjadi 1 – 4 (dalam bentuk huruf)

K3

Tabel itu diperoleh ketika pelatihan pendampingan kurikulum 2013. Dari tabel itu batas minimal ketuntasan adalah 66. Apakah hanya seperti itu? Tentu saja tidak. Bisa saja seperti di bawah ini:

KonSmantan

Tabel ini batas minimal ketuntasannya juga 66, namun berbeda untuk nilai A dan A-. Lalu bagaimana dengan KKM 75? Kalau semula KKM 75 sekarang batas minimal ketuntasan 66 bukankah itu turun? ya memang turun. Namun menurut pendapat saya, sudahlah lupakan 75, karena 75 itu memaksakan diri.

Tulisan Terkait

Iklan

About Moch. Fatkoer Rohman

Saya seorang guru matematika di SMAN 1 Tanjung Lombok Utara. Pendidikan terakhir S1 Pendidikan matematika IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Perjalanan profesi, pernah menjadi guru inti dan anggota tim desain pembelajaran matematika di Lombok Barat.

Posted on 22 Desember 2013, in Kurikulum and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 35 Komentar.

  1. yang jd masalah di saya pak, setting raport nilai 2,66 itu 75 dan saat sy tinggal copas nilaiku yg udah jadi dimana terendahnya 67, siswa hanya sedkit yang dapat nilai diatas B-
    yang lucu nilai 67 jd 75 kan di tambah 8, yg nilainya 100 sama2 di tambah 8 jd 108 deh….

    • Makanya raport itu lebih baik bikin sendiri, karena tabel konversi itu masih belum seragam di seluruh indonesia. di SMA saya raport bikin sendiri dan tabel juga bikin sendiri. jadi klop sudah gak ada masalah. Di SMA saya 66 sudah menjadi 2,66 atau B-. Jadi tidak capai katrol.

  2. Anto Dwi Cahyono

    OK. setuju Pak. Nilai 75 mestinya kalau dikonversi 3,00 atau B jadi bila nilai 75 dikonversi menjsdi B- atau 2,66 itu merugikan siswa asal benar benar hasil murni siswa bukan hasil katrolan. . Mestinya secara Nasional buat konversi yang stndart jadi nilai A atau B punya standart yg sama dan bukan hasil katrolisasi.

  3. Warta Guru Audams

    sayang sekali.. admin sprtinya blm terlalu faham ttg substansi dan konsep dasar KKM.. shg pmbahasan materinya krg nyambung. mhn maaf…

  4. Pendapat bapak bagus dan masuk akal, tapi saya di lapangan hanya sebagai eksekutor bukan pengambil kebijakan, jadilah harus manut/mengikuti aturan itu.

  5. Monggo Pendapat “Warta Guru Audams” direspon oleh Penulis telaah kembali PENGERTIAN SUBSTANSI DAN KONSEP DASAR KKM sehingga justru tidak membingungkan bahkan menjerumuskan Pembaca, Mohon Maaf Maturnuwun

  6. Pada dasarnya KKM adalah kriteria paling rendah yang dinayatakan dalam angka untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. Untuk menentukannya ada 3 faktor yaitu kompleksitas, daya dukung dan intake siswa. Saya lebih menyoroti fakta di lapangan bagaimana guru menentukan nilai-nialai dari ketiga faktor itu. Dari pengamatan saya sehari-hari menetukannya tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, Misal dari ulangan harian tahun pelajaran sebelumnya (ini faktor intake siswa) yang hanya 55 misalnya, namun ketika mengisi INTAKE SIWA dibuat 75. Sehingga terjadi ketidakakuratan dalam menentukan KKM, Misal ketika didapat KKM 75 apa yang terjadi? Siswa banyak yang tidak tuntas baik ketika ulangan harian maupun ulangan yang lain. Terus ada program remidial, dan akhirnya “terpaksa” dituntaskan.

    Bila saya dianggap kurang paham mengenai substansi dan konsep dasara KKM, silakan dishare bagi yang lebih tahu bagaimana yang sebenarnya. Monggo!!!

  7. setuju pak fatur…,, setahu sy juga seperti itu cara menghitung kkm & harus dihitung beneran, bukan asal besar & wah…,,,, yg mengkritik juga kita tunggu pendapatnya, atau mgkn kita lakukan penelitian bersama benar apa tidak anak2 bisa mencapai/melampaui kkm sebesar itu…

    • Sependapat dg bp fatur, konsep kkm memang demikian seharusnya, siapapun tdk bisa memungkiri seandainya kkm ternyata 75 ada faktor ‘intake siswa’ dan ‘daya dukung’ yg sangat kuat dimana tiap sekolah berbeda2 kemampuan, sehingga perlu dianalisis lg seandainya dlm kur13 batas min harus 2.66. Solusinya rentang nilai dibuat lbh besar atau batas nilainya yg dirubah menjadi 2.67 atau lebih mungkin. Mangga dikomentar,,hn

  8. Gimana denngan un smp yang katanya sudah masuk KTSP 2013

  9. sebenarnya apa sih kemudian gunanya KKM tiap sekolah dibuat tinggi klo ternyata terjadi katrol nilai yang massive terhadap siswa2nya bahkan terjadi penambahan nilai setelah nilai raport jadi krn alasan untuk mendaftar ke PT yang bonafide yang dibutuhkan nilai dengan Rata2 yang tinggi setelah lulus SMA kelak. ini namanya pendidikan me MARK UP nilai.

  10. KKM memuat sekolah tdk sehat. Ingin menerapkan KKM tinggi biar kelihatan sekolah bermutu, kenyataannya nilai KKM banyak yg di karbit agar mencapai KKM.saya rasa perlu dikembalikan spt dulu nilai minimal 6 atau 60. kurang dari itu tdk tuntas shg ketahuan siswa yg pandai dan yg kurang pandai.Dg sistem KKM sekarang, berapapun KKM-nya siswa hrs tuntas(walaupun dikarbit).

  11. KKM membuat sekolah tdk sehat. Ingin menerapkan KKM tinggi biar kelihatan sekolah bermutu, kenyataannya nilai KKM banyak yg di karbit agar mencapai KKM.saya rasa perlu dikembalikan spt dulu nilai minimal 6 atau 60. kurang dari itu tdk tuntas shg ketahuan siswa yg pandai dan yg kurang pandai.Dg sistem KKM sekarang, berapapun KKM-nya siswa hrs tuntas(walaupun dikarbit). Jadi KKM tinggi yg diuntungkan siswa yg kurang pandai, karena tuntas tdk tuntas hrs tuntas. Menghadapi siswa yg kurang pandai, guru hrs menggunakan ilmu bim salabim jd tuntaaas-tas-tasss!

  12. .H Samderubun SMK Siwa Lima Langgur

    Saya sangat setuju dgn pernytaan diatas,alasannya guru dan siswa hanya berusaha untuk memenuhi tuntutan pemenuhan nilai kkm dengan berbagai cara bahkan akhirnya di dongkrak oleh guru bidang studi,asalkan siswanya tuntas untuk melangkah ke materi selanjutnya,tanpa memperhitungkan kwalitas anak dalam penguasaan materi.

  13. oh iya pak, sampai saat ini saya masih bingung bagaimana kriteria penentuan KKM untuk SD/MI. Mungkin ada referensi yang cocok pak?

  14. Herie Bachtiar Rifai

    Pak Admin, maaf saya mau minta penjelasannya tabel terakhir,
    kenapa rentang skala nilai tidak konsisten, ada yang 51 – 55 diatasnya 56 – 55, ko jadi seperti itu???

    Lalu direntang skala nilai 76 – 80, selisihnya yaitu 5, tapi kenapa 81 – 90 yang selisihnya justru lebih besar, kenapa itu Pak???

    Mohon minta penjelasannya, karena menurut statistik itu tidak benar, rentang semuanya harus sama.

    Terima kasih,

  15. SETUJU!!!!!!!……..banget!

  16. Jika membaca komentar-komentar di atas, saya berkesimpulan bahwa hampir semua komentator paham bahwa nilai yang diberikan hampir tidak murni (katrolisasi) Apakah benar? Demikian juga dengan yang saya alamai sebagai guru (karena berbagai faktor). Artinya ada pemaksaan dalam sistem penilaian pendidikan kita.

  17. kalo kita mau jujur dan benar-benar berjuang untuk pendidikan, kita sebagai pelaku menjadi resah karena kenyataannya KKM kita itu sudah pesanan bukan yang sebenarnya. tapi karena pendidikan kita kalah dengan politik pencitraan ya mau gimana lagi…. (tau ah gelap…)

  18. Trims, sy setuju hanya saja beberapa teman masih bersikukuh dengan KKM, jadi saya perlu opini yang menguatkan opini saya. Oh, ya, saya guru matematika SMA.

  19. saya rasa pengkatrolan nilai udah jd rahasia umum. uptd takut sama kadis, kadis takut sama bupati, bupati takut sama menteri, dan mentrinya ogah ditegur presiden. terus kita guru, si ujung tombak, nrimo aja deh, ga bisa ngapa2in lagi..

  20. meskipun berganti kurikulum, tp gaji guru NON PN tetap sj mengenaskan, sangat jauh dibawah gaji pembantu & umk! dan guru selalu jd ‘korban’ dr berbagai kebijaksanaan yg selalu berganti & serba gj
    untuk kkm, nilai 75 dpt dibilang cukup tinggi, apalagi realita di lapangan msh banyak siswa dng kemampuan ‘kurang’. jangankan kkm 75, kkm 60 pun blm tentu dia mampu apalagi dng daya dukung sekolah yg tidak merata di indonesia

  21. Nilai..yg mau sy tanyakan..2,66 knp harus 2,66?boleh ga 2,4 kn masih trmasuk B- lalu utk prmasalahan dkurikulum 2013 anak gaboleh ganaik kelas..apa itu memang harus?kadang memang ada anak yg bnar2 tidak ada peningkatan didalam cara belajarnya..guru sudah hampir kehabisan akal merubah tabiatnya..tp dirumah tidak ada respect dr ortunya..berkali2 dipanggil tidak ada perubahan..kalau bertemu yg seperti ini..guru harus bagaimana?

  22. BILA RUMUS KKM 2,33<KKM<=2,66 pasti aman,predikat B-

  23. hahahaha…. ya itulah pendidikan kita. KKM yang seharusnya berdasarkan Intake, Tingkat Kesulitan dan Daya Dukung PBM, jadinya justru dipaksakan “minimal harus segitu”. Bahkan ada sekolah yang mematok KKM 85 untuk Matematika, padahal begitu ikut UN nilainya 2,00. HEBAT kan para munafiker kita???

  24. Reva Nurkhaeriyah

    Sore Pak, mo nanya nich, pada Kur. 2006 (KTSP) di sekolah ada yg namanya KKM yang dibuat oleh masing-2 guru, sekarang K13 ada gak yach semacam KKM itu dan contohnya gmn, apa sm dengan KKM?

    • Di Kurikulum 2013 tidak ada ATURAN TEGAS tentang KKM. Di permen 104/2014 dinyatakan batas ketuntasan 2,67 untuk pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan batas tuntas untuk sikap adalah B

  25. Setau saya cara penilaian di kurikulum 2013 itu dengan cara 100:25. Jadi dapat disimpulkan bahwa jika kkm 75 berarti 75:25= 3,00

  26. Secara garis besar, saya setuju apa yg diungkapkan oleh penulis.
    Namun demikian pada pembahasan terakhir, apakah pada waktu penulis membahas bagian terakhir, permen no 104 th 2014 sdh keluar atau belum ? Kalau belum berarti wajar saja penulis mengambil referensi dari perguruan tinggi, namun kalau permen yg saya maksud sudah keluar, berarti kita harus ambil referensi dari permen tersebut.

  27. Saya mau tanya (meskipun kurikulum 2013 sudah ditiadakan di sekolah saya), kalau memang KKM nya B- tapi kenapa ada teman saya yang banyak banget dapet C+ tetap naik kelas? apakah C+ itu yang menjadi patokan sebagai KKM nya atau B-?

  28. Yang jelas sekarang ini secara sadar/tidak, rekan guru sekalian sudah membuat kebohongan yang berakibat dengan rusaknya pendidikan dan anak didik di negeri ini. Dengan nilai yang sudah di katrol dengan tidak bertanggung jawab dan secara membabi buta sudah membuat sebagian besar siswa jadi rusak parah. Bila hal ini terus berlangsung dan tidak segera DIHENTIKAN, maka pendidikan di negeri ini tinggal menunggu waktu saja untuk hancur lebur.

  29. setuju sekali

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s