Menggunakan Nilai Optimum Untuk Keterampilan Matematika, Sesuaikah?

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa dalam Kurikulum 2013 setiap mata pelajaran terdiri dari 3 aspek, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Untuk pengetahuan, bila 1 KD dinilai 2 kali atau lebih maka nilai akhir KD itu diambil adalah rerata dari nilai-nilai yang ada. Untuk keterampilan, bila 1 KD dinilai 2 kali atau lebih dengan teknik yang sama maka nilai akhir KD diambil yang optimum (paling tinggi).

Misal KD 4.1, dinilai sebanyak 3 kali dengan teknik praktik dan nilai yang didapat oleh seorang siswa misalnya 75, 80, dan 60, maka nilai yang diambil adalah 80 untuk KD 4.1. Hal ini menjadi pertanyaan, karena ini merupakan konsep baru dalam penilaian di Indonesia. Mengapa yang diambil adalah nilai optimum?

Berikut ini penjelasannya:

Misal guru membelajarkan loncat tinggi. Untuk menguji kompetensi keterampilan loncat tinggi maka setiap siswa langsung praktik loncat tinggi. Anggap seorang siswa diminta loncat sebanyak 3 kali, loncatan pertama setinggi 140 cm, kedua 150 cm, ketiga 145 cm. Kemampuan loncat siswa itu tentu diambil yang terbaik, yaitu 150 cm.

Pertanyaan lebih lanjut:

Kasus loncat tinggi itu adalah kasus keterampilan motorik/fisik/kongkrit. Bagaimana sekarang dengan keterampilan matematika? Keterampilan matematika adalah keterampilan abstrak atau keterampilan berpikir. Menurut permendikbud nomor 54 tahun 2013 tentang Stndar Kompetensi Lulusan, ada 2 macam jenis keterampilan, yaitu keterampilan berpikir dan keterampilan motorik. Keterampilan matematika tergolong keterampilan berpikir.

Mari kita perhatikan satu pasang contoh KD pengetahuan dan KD keterampilan berikut ini:

KD Pengetahuan:

3.1. Menyusun Persamaan Linear tiga variabel dari masalah kontekstual

KD Keterampilan:

4.1. Menyelesaikan   masalah kontekstual yang berkaitan dengan sistem persamaan linear tiga variabel.

KD 4.1 itu adalah KD keterampilan, yang sebenarnya adalah keterampilan menyelesaikan soal yang berkaitan dengan masalah sehari-hari. Keterampilan menyelesaikan soal tentu berkaitan dengan proses berpikir, sehingga keterampilan KD 4.1 itu sebenarnya adalah keterampilan berpikir. Bila kita analisis semua KD keterampilan dalam matematika adalah keterampilan berpikir.

KD 4.1 adalah keterampilan menyelesaikan soal, tentu teknik tes yang bisa gunakan salah satunya adalah teknik tes tulis. Hal ini pernah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya.

Bila keterampilan motorik nilai yang diambil adalah nilai optimum itu logis, namun bagaiman dengan keterampilan berpikir? Tentu masih menjadi perdebatan.

Sekarang perhatikan KD pengetahuan yaitu KD 3.1. “Menysusun Persamaan Linear tiga variabel dari masalah kontekstual” apakah tidak melibatkan proses berpikir? Tentu tetap melibatkan proses berpikir.

Jadi, baik pengetahuan dan keterampilan melibatkan proses berpikir. Lantas kenapa harus dibedakan, pengetahuan diambil rerata dan keterampilan diambil yang optimum. Jadi menurut pendapat saya untuk matematika, kurang cocok bila untuk aspek keterampilan yang diambil nilai optimum.

Lagi-lagi pendapat saya pertegas bahwa sebenarnya matematika itu tidak perlu dipisah menjadi pengetahuan dan keterampilan. Matematika itu satu kesatuan. KD 3.1 dan KD 4.1 itu sebenarnya dua-duanya aspek kognitif. KD 3.1 itu tingkatannya pemahaman (C2) dan KD 4.1 itu tigkatannya penerapapan (C3).

Pemisahan pengetahuan dan keterampilan dalam matematika itu terkesan dipaksakan. Mengapapa? Karena SKL (Standar Kompetensi Lulusan) Kurikulum 2013 terdiri dari 3 aspek, yaitu sikap, pemgetahaun dan keterampilan yang berlaku untuk semua mata pelajaran, tidak terkecuali matematika.

Ketiga aspek itu berlaku untuk semua mata pelajaran maka “terpaksa” matematika juga harus dipecah menjadi 3 aspek.

Namun ada “kesadaran” saat ini. KD sikap (sikap spiritual dan sikap sosial) dihapus kecuali PPKn dan PABP. Artinya KD sikap spritual dengan penomomoran 1.1 dan KD sikap sosial dengan penomoran 2.1 disadari “tidak bisa dipaksakan”. Namun begitu selain guru PPKn dan PABP tetap melakukan pembelajaran sikap yang disebut pembelajaran tidak langsung.

Adapun yang belum disadari adalah pemaksaan KD keterampilan dalam matematika.

About Fatur Thok

Saya seorang guru matematika di SMAN 1 Tanjung Lombok Utara. Pendidikan terakhir S1 Pendidikan matematika IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Perjalanan profesi, pernah menjadi guru inti dan anggota tim desain pembelajaran matematika di Lombok Barat.

Posted on 10 Juni 2016, in Kurikulum, kurikulum 2013 and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s