Ketidakjelasan Konversi Nilai Dari Skala 100 Ke Skala 4 Di Permendikbud No 81A Tahun 2013

Posting ini saya tulis berdasarkan milis PELAKSANA KURIKULUM 2013 SMA. Jadi masalah konversi nilai dari skala 100 ke skala 4 pada judul di atas adalah masalah yang ada di SMA. Sampai posting ini saya tulis sudah ada titik terang kesepakatan mengenai konversi nilai dari skala 100 ke skala 4, walaupun kesepakatan itu tidak bisa disebut sebagai dokumen resmi, karena tidak dituangkan dalam suatu surat keputusan.

Seperti yang telah dipaparkan di permendikbud nomor 81 A (lampitan IV) bahwa nilai pada LCK (Laporan Capaian Kompetensi) pada kurikulum 2013 dinyatakan dalam skala 4, yaitu dari 1 hingga 4 dalam bentu kelipatan 0,33, sperti di bawah ini

k1

Namun yang jadi masalah tidak ada petunjuk jelas bagaimana cara mengkonversi dari nilai skala 100 ke nilai sakal 4. Akibatnya muncul berbagai macam tabel konversi di berbagai pelatihan kurikulum 2013, seprti contoh di bawah ini:

k2

Tabel konversi tersebut didapat ketika bimtek wakakur. Ini file lengkapnya.

Selain itu juga muncul tabel konversi seperti di bawah ini:

K3

Tabel tersebut didapat dari pelatihan guru pendamping kurikulum 2013. Ini file lengkapnya

Dengan ketidakjelasan tersebut, akhirnya di setiap SMA pada akhirnya membuat tabel konversi sendiri-sendiri. Ketika saya ikut implementasi pendampingan kurikulum 2013 in service 2 pada tanggal 16 Desember 2013 di SMAN 1 Mataram, masing-masing sekolah dalam satu cluster (11 SMA) membuat tabel konversi yang berbeda-beda.

Kurang lebih pukul 22.00 WITA pada tanggal 16 Desember 2013 saya membuka email dan di milis PELAKSANA KURIKULUM 2013 SMA muncul lagi tabel konversi yang baru lagi, yaitu:

K4

Tabel konversi itu berdasarkan hasil koordinasi di Lombok 10-13 Desember 2013. Tabel yang saya dapatkan di milis PELAKSANA KURIKULUM 2013 SMA tersebut dikirim oleh Bapak SUTIKNO, namun saya tidak tahu persis siapa-siapa yang berkoordinasi. Walaupun tabel konversi di atas merupakan kesepakatan hasil koordinasi, tetap saja itu bukan dokumen resmi, karena belum dituangkan dalam SURAT KEPUTUSAN. Dengan demikian boleh dipakai boleh juga tidak.

Sebenarnya apa sih masalah mendasar dari konversi nilai dari skala 100 ke skala 4? Mari kita bahas. Untuk mengkonversi nilai dari skala 100 ke skala 4 bisa menggunakan rumus:

(Nila dalam skala 100 : 100) X 4 atau bisa juga Nila dalam skala 100 : 25. Misal bagaimana cara mengkonversi nilai 68 menjadi nilai skala 4 dalam bentuk kelipatan 0,33?

68 : 25 = 2,72. Nah sekarang perhatikan nilai 2,72. Nilai ini bukan kelipatan 0,33, maka nilai ini harus dijadikan kelipatan 0,33. Nilai tersebut terletak anatar 2,66 dan 3,00. Masalahnya sekarang 2,72 dijadikan 2,66 ataukan dijadikan 3,00? Di permendikbud no 81A tidak ada penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian sebenarnya terdapat ketidakjelasan di pemendikbud no 81A tahun 2013 mengenai konversi nilai dari skala 100 ke skala 4 (dalam bentuk kelipatan 0,33), akibatnya muncul berbagai macam tabel konversi. Untung saja sudah ada kesepakatan hasil koordinasi di Lombok 10 – 13 Desember 2013 dan saya yakin kesepakatan itu belum banyak yang tahu dan itupun tidak bisa dipakai sebagai acuan karena belum dituangkan dalam SURAT KEPUTUSAN.

Sebenarnya masih ada lagi nilai yang masih menjadi perdebatan, yaitu nilai 2,67 misalnya. Di permendikbud nomor 81A tahun 2013 tidak ada nilai 2,67 yang ada adalah nilai 2,66. Untuk nilai 2,67 itu muncul pada contoh LCK final yang dituangkan dalam suarat keputusan Keputusan Dirjen Dikmen No: 717/D/Kep/2013.

Sudah saatnya dirjen dikmen memberikan pedoman konversi nilai untuk jenjang sekolah menengah, sehingga menjadi seragam di seluruh Indonesia. bila tidak seragam tentu nilai 2,66 di sekolah A dan sekolah B tentu mempunyai kualitas yang berbeda bila menggunakan tabel konversi yang berbeda-beda.

Tulisan Terkait

About these ads

About Fatur Thok

Saya seorang guru matematika di SMAN 1 Tanjung Lombok Utara. Pendidikan terakhir S1 Pendidikan matematika IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Perjalanan profesi, pernah menjadi guru inti dan anggota tim desain pembelajaran matematika di Lombok Barat.

Posted on 17 Desember 2013, in Kurikulum and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Melihat tabel 1 sampai 3 diatas menurut saya yang bukan guru matematika ada keganjilan ketika dari 1,66 ke 2.00 , dari 2,66 ke 3,00 atau dari 3,66 ke 4.00, kenapa intervalnya menjadi 0, 34 tidak 0,33 seperti pada angka-angka lainnya. Mohon penjelasnnya

  2. Lebih tidak jelas lagi Konversi ini, Gan,… Katanya kesepakatan di Bandung, katanya ini juga

    4,00 ≥ A > 3.83 4,00 ≥ SB ≥ 3.66
    3.82 ≥ A- > 3.66 3,66 > B ≥ 2.66
    3.66 ≥ B+ > 3.33 2.66 > C ≥ 1.66
    3.33 ≥ B > 3.00 1,66 > K > 0
    3.00 ≥ B- > 2.66
    2.66 ≥ C+ > 2.33
    2.33 ≥ C > 2.00
    2.00 ≥ C- > 1.66
    1.66 ≥ D+ > 1.33
    1.33 ≥ D > 1

    saya secara pribadi setuju dengan kesepakatan di Lombok, 13 Desember itu…
    Terima kasih juga infonya Bang Fatur Thok, sangat bermanfaat

  3. Wah maaf Gan Copasnya ngga beres ulang ya
    4,00 ≥ A > 3.83
    3.82 ≥ A- > 3.66
    3.66 ≥ B+ > 3.33
    3.33 ≥ B > 3.00
    3.00 ≥ B- > 2.66
    2.66 ≥ C+ > 2.33
    2.33 ≥ C > 2.00
    2.00 ≥ C- > 1.66
    1.66 ≥ D+ > 1.33
    1.33 ≥ D > 1

    dan

    4,00 ≥ SB ≥ 3.66
    3,66 > B ≥ 2.66
    2.66 > C ≥ 1.66
    1,66 > K > 0

  4. Ya, intinya, tiap sekolah, tiap cluster, tiap daerah bisa beda-beda, saya juga bikin tabel konversi sendiri seperti di bawah ini
    94 – 100 4.00 A
    87 – 93 3.66 A-
    80 – 86 3.33 B+
    73 – 79 3.00 B
    66 – 72 2.66 B-
    59 – 65 2.33 C+
    52 – 58 2.00 C
    45 – 51 1.66 C-
    38 -44 1.33 D+
    <=37 1.00 D

  5. bob marta(payakumbuh)

    Memang seperti kata guru saya.kurikulum skrg sprti “siluman”.Emngnya M.Nuh tdk ngaca dulu sblm brtndk.Un udh kcau skrg apalagi yg mw kau prbuat pak tua

  6. Menurut saya akan lebih baik nilai yang dituangkan dalam raport adalah nilai realitas aja, misal nilai akhir diperoleh 2,71 ya dituliskan 2,71 dengan predikat B. Jadi kenapa harus berubah menjadi 3,00 ????

  7. Mana yang dipakai gan? bingung…. untuk sementara sekolah kami pakai yang tabel dari hasil pendampingan…tp sekolah sebelah sdh berbeda…???!!!!!

  8. Terima kasih pak atas semuanya moga2 menjadi amal yang diterima. Amin ….

  9. cara penilaian seperti ini akhirnya malah membuat salah implementasi kurikulum 2013. anak saya di SMA Olah Raga Ragunan dinyatakan tidak naik kelas dari penilaian sikap yang katanya D, tetapi indikatornya sendiri tidak jelas.
    Dan akhirnya sekolah mengakui kesalahan penilaian dan anak saya tetap naik, tetapi kalau ada anak lain yang mengalami nasib seperti anak saya dan hanya bisa pasrah, itu suatu kerugian besar yang ditimbulkan oleh kurikulum 2013

  10. Bila di hitung secara logika (matematika perbandingan) saya rasa yang “logis” berapun nilainya. Saya lebih senang menyebut “perbandingan sinilai, atau perbandingan lurus” dengan formulasi sederhana saja.
    contoh; 2,66 (skala 0-4), bila diubah ke skala 0-100 akan di dapat ;

    Nilai (0-100) = (Score / Score maksimal) x nil. maksimal perbandingannya
    = (2,66 / 4,00 ) x 100 = 66,50

    atau sebaliknya dari skala 0-100 di ubah ke skala 4,00

    Contoh, 85 dirubah ke skala (0-4)
    Nilai (0-4) = (85/100) x 4,00
    = 3,40

    Begitu gan semoga membantu secara logika (matematika)

  11. konversi nilai 100 ke 4 tinggal dibagi 25 aja harusnya

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s